Kalau Anak SMP Sudah Menanam Pangan di Sekolah, Kita Masih Mau Cuma Debat di Medsos?
![]() |
| Jaka menanam lemon hasil cangkok sendiri |
MANGENJANG.COM - Minggu, 4 Januari 2026, saat sebagian besar anak seusia SMP masih asyik rebahan karena libur sekolah, seorang siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Kiarapedes justru berangkat ke sekolah membawa garpu tanah, pupuk, gunting stek, golok, dan satu pohon lemon hasil cangkokannya sendiri.
Namanya Muhamad Azka Abdul Rasyid, akrab dipanggil Jaka. Ia datang bukan untuk belajar di kelas, melainkan untuk ikut kerja bakti gotong royong dalam kegiatan Tatanen di Bale Atikan (TdBA), bertani di sekolah.
Kalau kita bicara ketahanan pangan, biasanya yang terlintas adalah kebijakan pemerintah, anggaran, atau proyek besar.
Kalau kita bicara ketahanan pangan, biasanya yang terlintas adalah kebijakan pemerintah, anggaran, atau proyek besar.
Tapi pagi itu, di halaman sekolah negeri di Kiarapedes, ketahanan pangan justru dimulai dari tangan seorang anak SMP yang mau kotor, mau capek, dan mau belajar langsung dari tanah.
Sekolah Libur, Tapi Tangan Tetap Kerja
Hari itu SMP Negeri 2 Kiarapedes menggelar gotong royong mengolah lahan sekolah.Orang tua murid, guru, dan siswa bahu-membahu membuat bedengan, membersihkan gulma, dan menyiapkan area tanam untuk berbagai jenis tanaman.
Suasananya jauh dari kesan formal. Lebih mirip kebun keluarga besar yang sedang ditata bersama.
Jaka, yang memang sejak kecil akrab dengan dunia pertanian, langsung bergerak.
Jaka, yang memang sejak kecil akrab dengan dunia pertanian, langsung bergerak.
Ia meminta izin kepada wali kelasnya, Ai Titin Sholihah, untuk menanam pohon jeruk lemon hasil cangkokannya di depan kantor sekolah.
Di lokasi itu sudah ada beberapa pohon jeruk berjajar, sayangnya sebagian mati.
Tak lama kemudian, Kepala Sekolah SMPN 2 Kiarapedes, Elis Haryati, S.Pd., datang meninjau.
Tak lama kemudian, Kepala Sekolah SMPN 2 Kiarapedes, Elis Haryati, S.Pd., datang meninjau.
Melihat kondisi tanaman yang ada, beliau meminta Jaka mengganti pohon jeruk yang mati dengan jeruk lemon cangkokan tersebut.
Jaka pun pulang sebentar ke rumah, mengambil satu bibit lemon cangkokan terakhir yang masih ia simpan.
Sederhana, tapi di situlah nilai pendidikannya: anak belajar mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan berkontribusi nyata untuk lingkungannya.
Sederhana, tapi di situlah nilai pendidikannya: anak belajar mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan berkontribusi nyata untuk lingkungannya.
Bukan Sekadar Menanam, Tapi Belajar Bertani
Setelah menanam jeruk lemon, Jaka tidak berhenti. Ia memupuk tanaman bawang daun dengan pupuk Nitrea, lalu melakukan pruning pada dua pohon jambu kristal di depan kelas.Ranting dan dahan yang tidak produktif dipangkas, gulma di sekitar batang dibersihkan, dan tanah digemburkan menggunakan garpu tanah.
Semua dilakukan dengan tujuan jelas: menyiapkan tanaman agar lebih produktif saat berbuah.
Ini bukan teori di buku pelajaran. Ini praktik bertani yang sesungguhnya. Anak belajar mengenali tanaman, memahami kebutuhan tanah, dan merawatnya dengan disiplin.
Ini bukan teori di buku pelajaran. Ini praktik bertani yang sesungguhnya. Anak belajar mengenali tanaman, memahami kebutuhan tanah, dan merawatnya dengan disiplin.
Gagal atau berhasil, itu urusan nanti. Yang penting, proses belajarnya terjadi.
Orang Tua Murid Ikut Turun Tangan
Menariknya, kegiatan TdBA ini bukan hanya urusan sekolah dan siswa.Salah satu orang tua murid, Atep Yanyan Charlamsyah, bahkan mengajak Jaka berdiskusi untuk menanam pohon pala berjajar di lingkungan sekolah. Hitungannya, dibutuhkan sekitar 20 bibit pala siap tanam.
Orang tua Jaka kemudian menghubungi Haji Mahmud Tohir, penangkar benih pala terkemuka di Jawa Barat yang berdomisili di Cibuntu, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta.
Orang tua Jaka kemudian menghubungi Haji Mahmud Tohir, penangkar benih pala terkemuka di Jawa Barat yang berdomisili di Cibuntu, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta.
Kabar baiknya, stok benih pala tersedia. Tantangannya tinggal satu: mencari dana untuk membeli 20 bibit tersebut.
Di belakang sekolah, bapak-bapak dan ibu-ibu orang tua murid terlihat sibuk mengolah tanah. Ada yang membuat bedengan, ada yang membentuk guludan. Semua dilakukan secara gotong royong.
Di belakang sekolah, bapak-bapak dan ibu-ibu orang tua murid terlihat sibuk mengolah tanah. Ada yang membuat bedengan, ada yang membentuk guludan. Semua dilakukan secara gotong royong.
Tidak ada pamrih, tidak ada bayaran. Yang ada hanya kesadaran bersama bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung, tapi juga tempat menanam nilai kehidupan.
Mengikis Gengsi Bertani Sejak Dini
Orang tua Jaka mendukung penuh keterlibatan anaknya dalam kegiatan TdBA. Alasannya sederhana tapi penting: anak-anak perlu dikenalkan bertani sejak dini.Terlepas dari hasil panennya nanti, pengalaman menyentuh tanah, menanam, dan merawat tanaman adalah bekal karakter yang tidak tergantikan.
Sudah menjadi rahasia umum, hari ini banyak anak muda yang gengsi bertani.
Sudah menjadi rahasia umum, hari ini banyak anak muda yang gengsi bertani.
Padahal di sisi lain, pemerintah terus menggaungkan ketahanan pangan sebagai program prioritas nasional.
Pertanyaannya: siapa yang akan mengurus pangan di masa depan jika sejak kecil anak-anak dijauhkan dari dunia pertanian?
Di sinilah relevansi TdBA terasa sangat nyata.
Tatanen di Bale Atikan: Bukan Program Kaleng-Kaleng
Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Purwakarta, program Tatanen di Bale Atikan digagas sebagai bagian dari pengembangan sekolah ekologi.Tujuannya jelas: memproyeksikan sekolah sebagai gugus kemandirian pangan.
Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Purwakarta saat itu, Anne Ratna Mustika (Ambu Anne), pada agenda Launching Gelar Munggaran Tatanen di Bale Atikan di Bale Paseban, Pendopo Pemkab Purwakarta, Rabu, 20 Januari 2021.
Menurut Ambu Anne, sekolah ekologi bukan hanya soal menghijaukan lingkungan sekolah. Lebih dari itu, sekolah bisa menjadi “pabrik tanaman” dengan ekosistem yang terawat.
Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Purwakarta saat itu, Anne Ratna Mustika (Ambu Anne), pada agenda Launching Gelar Munggaran Tatanen di Bale Atikan di Bale Paseban, Pendopo Pemkab Purwakarta, Rabu, 20 Januari 2021.
Menurut Ambu Anne, sekolah ekologi bukan hanya soal menghijaukan lingkungan sekolah. Lebih dari itu, sekolah bisa menjadi “pabrik tanaman” dengan ekosistem yang terawat.
Lingkungan sekolah harus bersih, hijau, dan dikelola dengan kesadaran bersama.
Program ini, kata Ambu Anne, bertujuan mengasah dan mengembalikan kultur anak-anak Purwakarta agar peka terhadap lingkungan sekaligus memahami pentingnya kemandirian pangan.
Program ini, kata Ambu Anne, bertujuan mengasah dan mengembalikan kultur anak-anak Purwakarta agar peka terhadap lingkungan sekaligus memahami pentingnya kemandirian pangan.
Setiap peserta didik diharapkan memiliki dan merawat minimal satu jenis tanaman, mulai dari sayuran, bawang daun, cabai rawit, hingga tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Lebih dari itu, TdBA adalah gerakan pendidikan. Anak-anak diajak menyadari lingkungan, menangkap masalah nyata, mempelajari teorinya, lalu mencari solusi melalui praktik langsung.
Pendidikan yang Menyentuh Kehidupan Nyata
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta saat itu, Purwanto, yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa TdBA bukan sekadar gerakan bertani atau penghijauan sekolah.Lebih dari itu, TdBA adalah gerakan pendidikan. Anak-anak diajak menyadari lingkungan, menangkap masalah nyata, mempelajari teorinya, lalu mencari solusi melalui praktik langsung.
Bahkan pelajaran seperti matematika bisa dihidupkan dengan cara mengukur luas kebun atau bedengan secara langsung di lapangan.
Dengan pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi pembelajar aktif yang memahami proses dan hasil.
Dengan pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi pembelajar aktif yang memahami proses dan hasil.
Mereka belajar produktif, belajar memiliki produk, dan belajar bertanggung jawab.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Hal Kecil
Apa yang terjadi di SMP Negeri 2 Kiarapedes hari itu mungkin terlihat sederhana: menanam jeruk, memupuk bawang, memangkas jambu, dan merencanakan penanaman pala.Tapi justru dari hal-hal kecil seperti inilah ketahanan pangan dimulai.
Bukan dari rapat di ruang ber-AC. Bukan dari jargon. Melainkan dari sekolah, dari anak-anak, dari tanah yang digarap bersama.
Kalau seorang siswa SMP saja bisa memulai, pertanyaannya sekarang kembali ke kita semua: masih pantaskah kita hanya jadi penonton?***
Bukan dari rapat di ruang ber-AC. Bukan dari jargon. Melainkan dari sekolah, dari anak-anak, dari tanah yang digarap bersama.
Kalau seorang siswa SMP saja bisa memulai, pertanyaannya sekarang kembali ke kita semua: masih pantaskah kita hanya jadi penonton?***

