Kok Keji Sekali! Fenomena Apa Ini? Sakit Hati Berujung Kematian Marbot Masjid Al Muhajirin Purwakarta
![]() |
| Pembunuhan marbot di Purwakarta. Kamis 6 Agustus 2026 |
Kok bisa sejauh itu?
Seorang lelaki berusia 65 tahun, yang sehari-hari menjadi marbot Masjid Al-Muhajirin, Desa Cibodas, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, tewas ketika hendak mengumandangkan azan Zuhur.
Yang lebih membuat hati terasa miris, pelaku diduga merupakan orang yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian.
Peristiwa itu terjadi Kamis, 6 Agustus 2026, sekitar pukul 12.30 WIB.
Korban berinisial AS ditemukan dalam kondisi mengalami sejumlah luka akibat senjata tajam. Polisi kemudian menangkap Fajar Sugama (35), yang disebut berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, mengatakan pelaku ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan.
“Pelaku ditangkap di kediamannya yang tidak jauh dari TKP. Saat ditangkap pelaku sedang beristirahat di rumah dan tidak melakukan perlawanan,” kata Made.
Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya sebilah pedang, celurit, serta pakaian yang diduga dikenakan saat kejadian.
Menurut polisi, aksi tersebut diduga sudah dipersiapkan. Senjata tajam disebut telah dibawa pelaku dari rumah sebelum mendatangi korban.
“Sudah direncanakan. Senjata sudah disiapkan dari awal,” ujar Made.
Lalu apa motifnya?
Menurut keterangan sementara kepolisian, pelaku mengaku sakit hati karena perkataan korban yang dianggap sering menyinggung kondisi ekonominya.
Di sinilah saya kira persoalannya menjadi jauh lebih besar daripada sekadar pertengkaran dua orang.
Ketika ucapan berubah menjadi luka
Kita tentu tidak boleh membenarkan pembunuhan dengan alasan apa pun.Sakit hati bukan alasan untuk menghilangkan nyawa manusia.
Tetapi kita juga perlu bertanya: fenomena sosial apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Pengangguran bukan cuma soal tidak punya pekerjaan.
Bagi sebagian orang, kondisi tersebut bisa ikut memengaruhi rasa percaya diri, harga diri, posisi sosial, bahkan hubungan dengan lingkungan sekitar.
Ucapan yang bagi seseorang mungkin dianggap biasa, bisa diterima berbeda oleh orang lain.
Apalagi kalau terjadi berulang-ulang.
Dalam perspektif Erving Goffman, stigma sosial dapat membuat seseorang merasa identitas dirinya tercoreng. Sementara Robert K. Merton melalui teori strain menjelaskan bagaimana tekanan muncul ketika tuntutan atau harapan sosial tidak sejalan dengan kemampuan seseorang mencapainya.
Tetapi sekali lagi, teori tersebut bukan pembenaran atas kejahatan.
Justru di situlah pentingnya memahami persoalan sejak awal.
Sakit hati harus punya jalan keluar yang sehat.
Bukan jalan menuju kekerasan.
Masjid pun menjadi tempat terjadinya kekerasan
Ada bagian lain yang menurut saya sangat menyedihkan.Peristiwa itu terjadi ketika korban hendak mengumandangkan azan Zuhur.
Masjid seharusnya menjadi ruang yang menenangkan. Tempat orang beribadah. Tempat orang belajar menahan amarah.
Namun dalam kasus ini, konflik pribadi justru masuk ke ruang tersebut.
Polisi menyebut rekaman CCTV menunjukkan korban sedang bersiap mengumandangkan azan ketika pelaku datang membawa senjata tajam.
“Korban dalam posisi akan mengumandangkan azan Zuhur. Tiba-tiba pelaku datang membawa samurai di tangan kanan dan celurit di tangan kiri,” kata Made.
Kalimat itu saja sudah cukup membuat kita merenung.
Ada sesuatu yang sangat serius ketika kemarahan pribadi mampu mengalahkan pertimbangan moral, sosial, bahkan kesakralan tempat ibadah.
Jangan anggap remeh konflik kecil
Menurut saya, pelajaran terbesar dari kasus ini bukan hanya tentang kejahatan.Tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Kita tidak pernah benar-benar tahu beban hidup seseorang.
Orang yang sedang menganggur mungkin sedang berjuang mempertahankan harga dirinya.
Orang yang terlihat diam mungkin sedang menyimpan masalah.
Orang yang sering tersinggung mungkin sedang menghadapi tekanan yang tidak kita ketahui.
Bukan berarti kita harus takut berbicara.
Bukan pula berarti semua ucapan harus dibenarkan.
Tetapi ada perbedaan antara menasihati dengan merendahkan.
Ada perbedaan antara bercanda dengan mempermalukan.
Dan ada perbedaan besar antara konflik yang diselesaikan dengan kepala dingin dengan konflik yang dibiarkan menjadi dendam.
Di sinilah peran keluarga dan lingkungan menjadi penting.
Konflik antarwarga jangan selalu dianggap sebagai urusan pribadi.
Kalau sudah muncul ancaman, permusuhan, atau ketegangan yang terus berulang, mestinya ada yang berani menjadi penengah.
Ketua RT, tokoh masyarakat, pengurus masjid, keluarga, atau pihak lain yang dipercaya bisa menjadi jembatan.
Jangan menunggu sampai ada darah.
Kekerasan bukan solusi
Membaca kasus ini membuat saya sampai pada satu kesimpulan sederhana.Harga diri memang penting.
Tetapi harga diri tidak boleh diperjuangkan dengan merampas hidup orang lain.
Masalah ekonomi juga nyata.
Pengangguran juga bukan persoalan sepele.
Stigma sosial pun bisa menyakitkan.
Namun semua itu harus diselesaikan melalui komunikasi, pendampingan, bantuan sosial, kesempatan kerja, konseling, atau jalur hukum. Bukan dengan kekerasan.
Dan bagi kita yang berada di lingkungan masyarakat, mungkin ada satu kebiasaan sederhana yang perlu dibangun kembali.
Jaga ucapan.
Kita tidak pernah tahu seberapa dalam sebuah kalimat menancap di hati orang lain.
Tetapi bagi orang yang merasa terus direndahkan, ada hal yang jauh lebih penting.
Jangan membalas penghinaan dengan kekerasan.
Pergilah dari situasi yang memancing emosi. Ceritakan kepada keluarga. Cari orang yang dipercaya. Mintalah bantuan. Bila ada ancaman nyata, hubungi aparat.
Karena satu menit kemarahan bisa menghancurkan masa depan banyak orang.
Korban kehilangan nyawa.
Keluarga korban kehilangan orang tercinta.
Keluarga pelaku juga harus menghadapi konsekuensi sosial dan hukum.
Dan pelaku sendiri harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.
Jadi, menurut saya, pertanyaan “kok keji sekali?” memang layak kita ajukan.
Tetapi jangan berhenti pada rasa heran.
Kita juga perlu bertanya lebih dalam.
Bagaimana sebuah sakit hati bisa berubah menjadi kebencian?
Mengapa konflik verbal tidak berhenti sebelum menjadi kekerasan?
Dan yang paling penting, apa yang bisa kita lakukan agar tragedi seperti ini tidak terulang?
Itulah pekerjaan rumah kita bersama.
Bukan hanya polisi.
Bukan hanya keluarga korban.
Bukan hanya keluarga pelaku.
Tetapi kita semua sebagai bagian dari masyarakat.***
