Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Board of Peace Jadi Board of War? Mardigu Soroti Konflik Iran dan Sikap Indonesia

Board of Peace
Board of Peace
Board of Peace Jadi Board of War? Mardigu Soroti Konflik Iran dan Sikap Indonesia

MANGENJANG.COM
- Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki babak baru. Serangan militer yang terjadi pada 28 Februari 2026 memicu eskalasi serius di Timur Tengah. Di tengah situasi panas itu, pengusaha dan pengamat terorisme Indonesia, Mardigu Wowiek Prasantyo, melontarkan pernyataan tajam: Board of Peace (BoP) kini telah berubah menjadi “Board of War”.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun Threads miliknya pada 1 Maret 2026.

“Jalur komando tidak putus ini yang membuat Rusia dan Tiongkok mendukung Iran agar Iran tidak jatuh ke tangan Israel dan minyak Iran tidak dikendalikan Amerika,” tulisnya.

Ia kemudian menambahkan, “Kayaknya perang ini bisa jadi alasan Indonesia KELUAR dari BOARD OF PEACE karena BoP sudah jadi Board of War.”

Pernyataan itu langsung memantik diskusi luas di ruang publik, terutama terkait posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Kematian Khamenei dan Proses Suksesi

Perang Iran-AS-Israel
Perang Iran-AS-Israel
Laporan sejumlah media internasional menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Informasi tersebut dilaporkan oleh Al Jazeera dan CNN pada Minggu (1/3/2026).

Iran kini menghadapi fase krusial: menentukan penerus Khamenei. Sesuai konstitusi Republik Islam Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Pakar, badan beranggotakan 88 ulama senior.

Proses ini baru pernah terjadi sekali sejak Revolusi Islam 1979, ketika Khamenei dipilih menggantikan Ruhollah Khomeini.

Pemimpin baru harus memenuhi sejumlah kriteria ketat: laki-laki, ulama dengan otoritas moral dan kompetensi politik, serta loyal terhadap Republik Islam. Pemerintah Iran diperkirakan bergerak cepat demi menunjukkan stabilitas, meski situasi keamanan masih dibayangi ancaman serangan lanjutan dari Presiden AS, Donald Trump.

Ujian Kredibilitas Board of Peace

Di Indonesia, isu ini tidak dipandang sekadar konflik regional. Pakar hubungan internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menyebut serangan terhadap Iran sebagai ujian kredibilitas Board of Peace.

Menurutnya, terdapat kontradiksi antara narasi stabilitas dan praktik militer di lapangan. Negara-negara Islam yang relatif independen seperti Turki dan Indonesia dinilai perlu merefleksikan kembali posisi mereka dalam kerangka kerja sama tersebut.

Ahmad juga mengingatkan bahwa langkah AS-Israel terhadap Iran bisa dilihat sebagai bagian dari rekayasa ulang keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Jika preseden ini dianggap normal, bukan tidak mungkin eskalasi akan meluas ke kawasan lain.

Indonesia dan Politik Bebas Aktif

Mardigu
Mardigu Wowiek Prasantyo
Di tengah memanasnya situasi, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan Presiden Prabowo Subianto siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif.

Langkah ini mencerminkan komitmen Indonesia pada diplomasi dan deeskalasi. Namun, wacana yang diangkat Mardigu membuka pertanyaan strategis: apakah Indonesia perlu mengevaluasi keterlibatannya dalam Board of Peace?

Indonesia selama ini dikenal konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Artinya, tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu, tetapi aktif berperan menjaga perdamaian dunia.

Ketika narasi perdamaian bertemu dengan realitas perang, publik pun menunggu arah kebijakan yang tegas dan terukur.

Dunia Berubah, Sikap Harus Tegas

Konflik Iran–AS–Israel bukan hanya soal satu negara atau satu kawasan. Ini tentang keseimbangan kekuatan global, stabilitas energi, dan masa depan tatanan internasional.

Pernyataan Mardigu bahwa Board of Peace telah berubah menjadi Board of War menjadi refleksi kegelisahan atas arah dunia yang semakin keras. Namun pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan para pemimpin negara.

Indonesia dihadapkan pada pilihan penting: memperkuat diplomasi damai dari dalam, atau mengambil langkah strategis baru sesuai kepentingan nasional.

Situasi masih berkembang. Yang jelas, dunia sedang berada di titik krusial, dan setiap keputusan hari ini akan berdampak panjang bagi masa depan.***