Cultural Lag: Mengapa Tata Krama Anak dan Remaja Bergeser di Era Digital?
![]() |
| Gambar ilustrasi AI |
MangEnjang.com - Pernah mendengar orang tua berkata, "Anak zaman sekarang kok beda ya?" Kalimat seperti itu sering muncul ketika membahas soal sopan santun. Mulai dari cara berbicara, menyapa orang yang lebih tua, hingga etika saat menggunakan media sosial.
Lalu, benarkah anak-anak dan remaja saat ini kehilangan tata krama?
Kalau dilihat dari sudut pandang sosiologi, jawabannya tidak sesederhana itu. Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai dampak perubahan sosial yang sangat cepat. Salah satu konsep yang sering digunakan untuk menjelaskan kondisi tersebut adalah cultural lag atau ketertinggalan budaya.
Apa Itu Cultural Lag?
Cultural lag adalah kondisi ketika perkembangan teknologi dan kehidupan modern berlangsung sangat cepat, sementara norma, nilai, dan kebiasaan sosial membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri.Apa yang terjadi? Teknologi berubah cepat.
Siapa yang terdampak? Hampir semua kelompok masyarakat, terutama anak-anak dan remaja.
Kapan mulai terasa? Semakin kuat sejak internet dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di mana terjadi? Hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Mengapa terjadi? Karena perubahan teknologi melaju lebih cepat dibanding proses pewarisan nilai sosial.
Bagaimana dampaknya? Muncul kebingungan mengenai batas-batas etika dalam kehidupan nyata maupun dunia digital.
Keluarga Tidak Lagi Menjadi Satu-satunya Guru
Sosiolog Talcott Parsons menjelaskan bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi pertama. Di rumah, anak belajar menghormati orang tua, berbicara sopan, dan memahami aturan hidup bermasyarakat.Namun kondisi sekarang mulai berubah.
Banyak orang tua bekerja sepanjang hari. Waktu berkumpul bersama keluarga menjadi lebih sedikit. Akibatnya, kesempatan untuk menanamkan nilai sopan santun juga ikut berkurang.
Di sisi lain, pola asuh modern cenderung lebih terbuka dan egaliter. Hal ini memiliki banyak manfaat. Anak menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat.
Namun jika tidak diimbangi dengan batasan sosial yang jelas, sebagian anak dapat kesulitan membedakan cara berbicara kepada teman sebaya dan kepada orang yang lebih tua.
Media Sosial Menjadi Guru Baru
Saat ini, media sosial bukan hanya tempat hiburan. Ia juga menjadi ruang belajar perilaku.Psikolog John Suler dalam penelitiannya tentang The Online Disinhibition Effect menjelaskan bahwa seseorang cenderung lebih berani berkata kasar atau bersikap agresif ketika berada di dunia maya. Penyebabnya antara lain karena minim kontak langsung dan adanya rasa anonim.
Belum lagi algoritma media sosial sering menampilkan konten yang ramai diperbincangkan. Sayangnya, tidak sedikit konten yang justru menampilkan konflik, sindiran, atau bahasa yang kurang santun.
Semakin sering perilaku seperti itu muncul di layar, semakin mudah pula dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Ketika Norma Lama Mulai Pudar
Sosiolog Émile Durkheim memperkenalkan konsep anomi, yaitu keadaan ketika norma lama mulai kehilangan pengaruh, sementara norma baru belum terbentuk dengan kuat.Fenomena ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Dulu, membungkukkan badan saat melewati orang tua atau menggunakan tingkatan bahasa daerah dianggap bentuk penghormatan.
Kini, sebagian remaja menganggap kebiasaan tersebut tidak lagi penting atau terlalu formal.
Masalahnya, etika komunikasi digital yang baru pun belum sepenuhnya dipahami. Akibatnya, muncul kebingungan mengenai batas sopan santun dalam berbagai situasi.
Anak Belajar dari Apa yang Mereka Lihat
Menurut Albert Bandura melalui Social Learning Theory, manusia belajar melalui pengamatan dan peniruan.Artinya, anak-anak tidak hanya belajar dari orang tua atau guru.
Mereka juga belajar dari influencer, tokoh publik, konten viral, bahkan percakapan yang setiap hari muncul di media sosial.
Jika lingkungan sekitar lebih sering mempertontonkan pertengkaran, ujaran kasar, atau sikap saling merendahkan, maka perilaku tersebut berpotensi ikut ditiru.
Sebaliknya, ketika orang dewasa mampu memberi contoh komunikasi yang santun dan saling menghormati, peluang anak menirunya juga menjadi lebih besar.
Jadi, Apakah Moral Generasi Muda Rusak?
Belum tentu.Sosiologi justru mengajak kita melihat persoalan ini secara lebih utuh.
Perubahan perilaku anak dan remaja bukan semata-mata akibat lemahnya moral individu. Fenomena tersebut berkaitan erat dengan perubahan struktur keluarga, perkembangan teknologi, dominasi media digital, serta perubahan norma sosial yang berlangsung sangat cepat.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan hanya menyalahkan generasi muda. Yang lebih penting adalah memperkuat pendidikan karakter di rumah, sekolah, dan ruang digital agar perkembangan teknologi berjalan seiring dengan perkembangan nilai-nilai sosial.***
Disclaimer:
Artikel ini merupakan feature edukatif berbasis teori sosiologi dan referensi ilmiah. Uraiannya bertujuan membantu memahami fenomena sosial secara umum, bukan untuk menghakimi seluruh anak dan remaja. Setiap individu memiliki latar belakang keluarga, lingkungan, dan pengalaman sosial yang berbeda.
