Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Aslinya Bernama Nurcholis Orang Madura? Dari Guyonan Lama ke Krisis Global Paling Serius 2026

presiden-venezuela-nicolas-maduro-orang-madura
Presiden Venezuela Nicolas Maduro
MANGENJANG.COM - Kalau Anda sempat tersenyum membaca judul ini, tenang, Anda tidak sendirian. Saya juga begitu. Tapi percayalah, di balik guyonan soal “Presiden Venezuela bernama Nurcholis orang Madura”, ada peristiwa global yang sangat serius, berbahaya, dan penting diketahui publik. Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan ini bukan drama sinetron sore.

Awal Januari 2026, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan khusus Amerika Serikat dalam operasi militer mendadak di Caracas. Operasi itu diberi nama Operation Absolute Resolve, melibatkan ratusan pesawat, helikopter tempur, hingga kapal perang. Maduro kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan federal Amerika Serikat. Peristiwa ini langsung mengguncang tatanan hukum internasional dan memantik reaksi keras dari berbagai negara.

Lalu apa hubungannya dengan orang Madura bernama Nurcholis? Nah, di sinilah kisah menjadi menarik, sekaligus perlu diluruskan agar kita tidak terseret arus informasi yang setengah bercanda, setengah serius.

Dari Cuitan Lama ke Viral Lagi

Screenshot cuitan Budiman Sudjatmiko
Delapan tahun lalu, tepatnya 17 Juni 2017, Budiman Sudjatmiko pernah bercuit di Twitter (sekarang X) bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro itu “orang Madura” dengan nama asli Nurcholis. Cuitan itu jelas sebuah lelucon politik segar, menanggapi guyonan serupa yang sedang ramai saat itu. Tidak pernah dimaksudkan sebagai fakta sejarah atau klaim identitas etnis.

Namun dunia digital punya kebiasaan aneh. Sesuatu yang bercanda bisa hidup kembali saat momentum datang. Dan momentum itu datang ketika Maduro benar-benar menjadi pusat perhatian dunia setelah ditangkap militer AS. Nama “Maduro” terdengar mirip “Madura”, lalu imajinasi publik bekerja tanpa diminta.

Sebagai jurnalis dan petani yang sehari-hari hidup di desa, saya paham betul: guyonan itu sehat. Tapi membedakan guyonan dan fakta adalah kewajiban moral, apalagi di tengah krisis global.

Penangkapan Kepala Negara, Dunia Tercengang

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyebut penangkapan Presiden Venezuela oleh militer AS sebagai ancaman nyata terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Menurutnya, jika kepala negara berdaulat bisa ditangkap sepihak tanpa mekanisme hukum internasional yang sah, maka dunia sedang bergeser dari politik berbasis hukum ke politik berbasis kekuatan.

Bahasanya sederhana begini: yang kuat bisa menangkap yang lemah, tanpa perlu izin siapa pun. Hari ini Venezuela, besok bisa negara lain. Ini bukan teori konspirasi, tapi preseden berbahaya.

Sukamta juga menegaskan Indonesia tidak boleh diam. Politik luar negeri bebas aktif bukan slogan kosong, melainkan komitmen untuk mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi dan multilateralisme. Indonesia, kata dia, harus tetap menjadi suara moral yang konsisten memperjuangkan perdamaian dunia.

AS, Minyak, dan Tuduhan Narkoterorisme

Amerika Serikat menuduh Nicolás Maduro memimpin organisasi perdagangan narkotik internasional. Tuduhan ini sudah lama disuarakan, namun selalu dibantah Maduro dan hingga kini belum pernah diputuskan oleh pengadilan internasional yang diakui bersama.

Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka menyatakan AS akan “mengendalikan” Venezuela sampai terjadi transisi kekuasaan. Ia juga menyebut perusahaan-perusahaan AS akan masuk untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela. Di sinilah banyak analis melihat motif utama: minyak dan gas.

Venezuela diyakini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Dalam kacamata geopolitik, itu bukan sekadar sumber daya alam, melainkan kunci pengaruh global. Sejumlah analis, termasuk koresponden BBC News Tom Bateman, menilai retorika demokrasi dan stabilitas hanya menjadi pembungkus kepentingan ekonomi dan energi.

Dunia Terbelah, PBB Dipertanyakan

Reaksi dunia pun terbelah. Rusia dan China mengecam keras tindakan AS dan mendesak pembebasan Maduro. Brasil menyebutnya serangan serius terhadap kedaulatan negara. PBB menyatakan sangat prihatin dan memperingatkan tentang preseden berbahaya.

Sebaliknya, Argentina di bawah Presiden Javier Milei justru merayakan jatuhnya Maduro. Uni Eropa bersikap ambigu: tidak mengakui legitimasi Maduro, tapi juga menolak intervensi yang melanggar hukum internasional.

Di titik ini, PBB seperti berdiri di persimpangan. Apakah masih relevan sebagai penjaga hukum internasional, atau hanya menjadi panggung pidato tanpa gigi?

Venezuela Membara, Rakyat Ketakutan

Di Caracas, ledakan terdengar, listrik padam, dan warga saling mengabari dengan panik. Seorang jurnalis lokal, Vanessa Silva, menggambarkan suara ledakan lebih keras dari halilintar, membuat rumah bergetar. Venezuela menetapkan keadaan darurat nasional dan menuding AS ingin merebut sumber daya minyak dan mineral mereka.

Mahkamah Agung Venezuela kemudian menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara untuk menjamin keberlanjutan pemerintahan. Rodríguez menegaskan hanya ada satu presiden Venezuela, dan namanya Nicolás Maduro.

Jadi, Benarkah Maduro Orang Madura?

Jawabannya singkat dan jelas: tidak. Nicolás Maduro Moros lahir di Caracas, Venezuela, 23 November 1962. Ia bukan orang Madura, bukan bernama Nurcholis, dan tidak punya hubungan etnis dengan Indonesia. Guyonan lama itu tetaplah guyonan.

Namun menariknya, lelucon ini justru membuka pintu diskusi yang lebih besar: bagaimana publik mencerna informasi di era krisis global. Di satu sisi kita butuh humor agar tidak stres. Di sisi lain, kita wajib waspada agar tidak terjebak misinformasi.

Bukan Kesimpulan...

Sebagai petani, saya terbiasa membaca tanda alam. Kalau angin berembus terlalu kencang dari satu arah, biasanya hujan besar sedang menuju kampung. Dalam politik global, penangkapan presiden negara berdaulat oleh negara lain adalah angin kencang itu.

Hari ini Venezuela. Besok entah siapa. Dunia sedang menguji apakah hukum internasional masih punya arti, atau hanya berlaku bagi yang lemah.

Dan soal Presiden Venezuela “orang Madura”? Biarlah itu tetap jadi humor ringan yang mengingatkan kita satu hal penting: di tengah dunia yang makin keras, nalar sehat dan literasi publik adalah pupuk paling mahal yang harus terus kita rawat.

Kalau tulisan ini membuat Anda berhenti sejenak, berpikir, lalu ingin membagikannya ke teman, berarti tugas saya sebagai warga desa sudah selesai.***