IPO 2026 Meledak! Dana Ratusan Triliun Mengalir, Deretan Raksasa Siap Masuk Bursa: Kalau Tak Baca Ini, Kamu Ketinggalan Cuan!
![]() |
| IPO 2026 (Gambar: Freepik) |
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, hingga 24 Desember 2025, sebanyak 26 perusahaan berhasil mencatatkan saham perdananya, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 18,11 triliun. Angka ini memang lebih rendah dari target kuantitas, namun justru mencerminkan kualitas emiten yang semakin selektif dan solid secara fundamental.
IPO Tidak Banyak, Tapi Nilainya Besar
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menegaskan bahwa menurunnya jumlah IPO bukan karena lemahnya pasar, melainkan karena semakin ketatnya proses seleksi. Hanya perusahaan yang benar-benar siap secara bisnis, tata kelola, dan keberlanjutan yang bisa melantai di bursa.
“IPO bukan sekadar masuk bursa. Ini soal kesiapan jangka panjang,” tegasnya.
Fakta ini tercermin dari meningkatnya nilai dana yang berhasil dihimpun. Meski jumlah emiten turun, nilai penghimpunan justru melampaui tahun sebelumnya. Ini menandakan bahwa investor kini lebih selektif, sekaligus percaya pada kualitas emiten yang masuk.
Emiten Raksasa Masih Menguasai Pasar
Hingga akhir 2025, struktur pasar modal Indonesia masih didominasi saham-saham berkapitalisasi besar. Dari total kapitalisasi pasar, sekitar 74 persen dikuasai oleh 50 emiten terbesar.
Beberapa nama yang mendominasi antara lain:
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) – kapitalisasi sekitar Rp1.281 triliun
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp1.009 triliun
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – Rp847 triliun
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) – Rp640 triliun
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) – Rp587 triliun
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) – Rp563 triliun
2026: Tahun Kebangkitan IPO Skala Besar
Memasuki 2026, optimisme pasar semakin menguat. BEI memastikan terdapat dua perusahaan kategori lighthouse company yang siap melantai di bursa pada kuartal pertama 2026. Keduanya berasal dari sektor strategis: infrastruktur dan pertambangan.
Lighthouse company sendiri merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun dan porsi saham publik sekurang-kurangnya 15 persen. Kehadiran perusahaan jenis ini dinilai mampu menjadi jangkar kepercayaan investor domestik maupun global.
Tak hanya itu, BEI juga mencatat sembilan perusahaan lain dalam antrean IPO 2026, terdiri dari berbagai sektor: keuangan, energi, industri, teknologi, hingga transportasi dan logistik.
Target Ambisius dan Optimisme Pasar
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT), BEI menargetkan 50 perusahaan melakukan IPO sepanjang 2026. Angka ini mencerminkan optimisme bahwa iklim investasi Indonesia tetap atraktif, meski kondisi global penuh tantangan.
Menariknya, sebagian emiten yang santer disebut akan melantai adalah perusahaan dengan skala besar dan rekam jejak kuat, termasuk dari sektor energi dan pertambangan. Dua nama yang ramai diperbincangkan adalah PT Titan Infra Sejahtera (TIS) dan PT Anugrah Neo Energy Materials (ANEM).
ANEM bahkan dikabarkan berpotensi menghimpun dana lebih dari Rp 5 triliun, didukung proyek hilirisasi nikel dan pengembangan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik. Jika terealisasi, ini akan menjadi salah satu IPO paling strategis dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Apa Artinya Bagi Publik dan Investor?
Bagi masyarakat, geliat IPO 2026 bukan sekadar isu pasar modal. Ini menyangkut arah ekonomi nasional, pembukaan lapangan kerja, dan peluang investasi jangka panjang. Bagi investor ritel, momentum ini membuka peluang memilih perusahaan berkualitas sejak awal perjalanan mereka di bursa.
Bagi Indonesia, derasnya arus IPO menegaskan satu hal: pasar modal bukan lagi sekadar alternatif, tetapi telah menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan nasional.
Dengan kombinasi emiten kuat, regulasi yang semakin matang, dan minat investor yang tinggi, 2026 berpotensi menjadi salah satu tahun paling penting dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Dan satu hal pasti: siapa pun yang mengabaikan geliat IPO 2026, bisa jadi sedang melewatkan salah satu peluang ekonomi terbesar dekade ini.***
