Kenapa Repot-repot, Bapak-bapak ke Sekolah Bawa Rapot?
![]() |
| Ilustrasi. Bapak-bapak bawa rapot |
Terus terang saja, sebelum hari itu, urusan sekolah anak hampir selalu dipegang istri. Saya kebagian tugas lain: kerja, dan segala alasan klasik bapak-bapak. Sampai sehari sebelum pengambilan rapot, istri bilang singkat tapi tegas,
“Aku ambil rapot yang SD. Bapak yang SMP.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi rasanya seperti palu hakim. Tidak ada ruang banding. Saya mengiyakan, demi menghindari konflik rumah tangga yang bisa lebih berbahaya dari kelupaan ngopi, kehabisan udud dan kehilangan korek api.
Apalagi saat itu media sosial sedang ramai. Meme bapak-bapak ke sekolah bawa rapot bertebaran di mana-mana. Lucu? Iya. Menyindir? Jelas. Saya ikut tertawa… sampai sadar, saya sendiri jadi bahan tertawan berikutnya.
Saat tiba di sekolah, perasaan aneh langsung datang. Gelisah. Tidak betah. Ingin cepat pulang. Entah kenapa, padahal tidak sedang dipanggil polisi. Mungkin ini yang disebut “tidak terbiasa hadir”. Ada rasa khawatir yang tidak jelas bentuknya. Takut ditanya iuran bangunan pas di saku tidak ada uang? Bisa jadi. Tapi lebih dari itu, ada rasa asing berada di dunia anak sendiri.
Singkat cerita, saya bertemu wali kelas. Obrolannya santai, tapi isinya membuat saya terdiam. Saya baru tahu, anak saya ternyata punya “catatan kriminal”. Dari kelas 1 sampai kelas 2, catatan berkelahi. Kelas 3, sudah naik level: ketahuan berpegangan tangan dengan teman perempuannya.
Bukan di sekolah, bukan pakai seragam, tapi tetap sampai ke telinga guru. Wali kelas mengingatkan dengan halus tapi tegas. Jangan sampai bertemu berduaan. “Kita harus sama-sama jaga ya Pak,” katanya.
Kalimat itu sederhana, tidak menghakimi, tapi menampar. Banyak sekali hal tentang anak saya yang baru saya ketahui hari itu. Dan jujur saja, saya bertanya dalam hati: selama ini saya ke mana?
Cerita ini tidak berhenti di rapot. Pagi kemarin, Senin 5 Januari 2026, saya ikut Apel Gabungan. Pemimpin apel, Camat Kiarapedes Usep Sukanda, S.Sos, menyinggung soal Pendidikan Karakter Panca Waluya. Tiba-tiba semua kepingan cerita terasa nyambung.
Istilah Panca Waluya sebenarnya sudah sering saya dengar. Apalagi sejak viral isu “siswa nakal masuk barak” dan pidato-pidato Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM. Tapi jujur, baru kali ini saya benar-benar memahami maknanya, bukan dari video, tapi dari pengalaman pribadi sebagai orang tua.
Panca Waluya bukan sekadar slogan. Ia adalah filosofi pendidikan karakter khas Jawa Barat: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer. Sehat jasmani-rohani, baik budi pekerti, jujur dan benar, cerdas, serta terampil dan cekatan. Lengkap. Bukan hanya soal nilai akademik, tapi soal jadi manusia utuh.
Camat Usep menjelaskan dengan lugas. Program ini tidak akan berhasil jika hanya dibebankan ke sekolah. Kuncinya ada di orang tua. Terutama ayah. Komunikasi orang tua dan anak sekarang berubah. Tidak se-intens dulu. Banyak bapak sibuk, hadir secara fisik tapi absen secara emosional.
Itulah kenapa Bupati Purwakarta, Om Zein, sampai mengeluarkan edaran: yang mengambil rapot harus bapaknya. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk melawan fenomena fatherless. Anak-anak tumbuh tanpa merasa dekat dengan sosok ayah, lalu mencari tempat curhat lain yang belum tentu aman.
Pesan Camat menohok tapi masuk akal. Jangan hanya memasukkan anak ke sekolah dan mengaji, lalu berharap mereka otomatis berkarakter Panca Waluya. Tidak sesederhana itu. Pendidikan karakter adalah kerja kolaboratif. Rumah adalah sekolah pertama. Ayah dan ibu adalah guru utama.
Gubernur Jawa Barat, kata Camat, sudah menyiapkan beasiswa besar dan program pendidikan yang luar biasa. Tapi semua itu mensyaratkan karakter. Mau jadi dokter, arsitek, sastrawan, semua bisa. Tapi karakter harus sejalan dengan potensi dan minat anak. Dan itu tidak bisa dipantau dari jauh.
Di titik ini, saya baru paham. Kenapa harus repot-repot bapak-bapak disuruh ke sekolah bawa rapot. Bukan soal administrasi. Bukan soal formalitas. Tapi soal kehadiran. Soal keberanian seorang ayah untuk mendengar, meski yang didengar tidak selalu menyenangkan.
Mengambil rapot ternyata bukan tentang nilai anak. Tapi tentang nilai kita sebagai orang tua. Apakah kita benar-benar hadir? Atau hanya menitipkan lalu menuntut hasil?
Saya pulang dari sekolah hari itu dengan perasaan campur aduk. Malu, tersadar, tapi juga bersyukur. Karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki. Dan mungkin, kalau bapak-bapak lain mau jujur, kita semua sedang belajar hal yang sama.
Kalau hari ini Anda masih bertanya, “Kenapa harus bapak yang ambil rapot?”
Mungkin jawabannya sederhana: karena masa depan anak tidak bisa diwakilkan.
Dan itu, pelajaran terpenting yang tidak tertulis di lembar rapot mana pun.***
Catatan:
Di lingkup nasional Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) adalah inisiatif dari BKKBN yang mengajak para ayah datang langsung ke sekolah saat pengambilan rapor anak, sebagai upaya memperkuat peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan, membangun kedekatan emosional, serta mendorong kolaborasi antara keluarga dan sekolah untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak.Dengan dasar hukum Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah (GEMAR), ditetapkan 1 Desember 2025.
