Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Abdul Rohman, Sang Banser Didaulat Jadi Pemimpin Petani Kopi di KTH Giri Mulya

Abdul Rohman
MANGENJANG.COM - Pergantian kepemimpinan di tubuh Kelompok Tani Hutan (KTH) Giri Mulya, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, bukan sekadar agenda rutin organisasi. 

Di balik musyawarah yang digelar pada 30 Desember 2025 itu, tersimpan pesan penting tentang regenerasi, keberlanjutan, dan masa depan pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Dalam musyawarah yang berlangsung di Madrasah Dusun Pasirmuncang RT 14 RW 06 tersebut, Abdul Rohman resmi ditetapkan sebagai Ketua KTH Giri Mulya menggantikan Endang Kosim. 

Pergantian ini dilakukan bukan karena konflik, melainkan kesadaran bersama bahwa regenerasi kepemimpinan adalah kebutuhan. 

“Karena sudah tua, saatnya memberi kesempatan kepada yang muda,” menjadi alasan Endang Kosim yang akhirnya disepakati secara mufakat oleh para anggota.

Abdul Rohman, yang akrab disapa Bang Ujil atau Bang Ompong, bukan sosok asing di lingkungan KTH. Sebelumnya ia menjabat sebagai sekretaris, sehingga dinamika organisasi sudah sangat ia pahami. 

Ia melanjutkan sisa masa kepengurusan selama 2 tahun 2 bulan 13 hari, didampingi Ahmad Hidayat sebagai sekretaris dan Cucup Supriatna sebagai bendahara.

Menariknya, musyawarah ini bertepatan dengan peringatan hari lahir Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Giri Pusaka yang ke-17, berdiri sejak 30 Desember 2008. 

Momentum ini dimaknai bukan hanya sebagai pergantian pengurus, tetapi juga refleksi perjalanan panjang petani hutan dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kelestarian alam. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad Hidayat.

Dalam perkembangannya, LMDH Giri Pusaka kini menghadapi tantangan baru seiring perubahan regulasi. Perum Perhutani mewajibkan kerja sama dilakukan melalui badan usaha berbadan hukum. 

Menjawab hal itu, pengurus dan anggota membentuk Koperasi Jasa Giri Pusaka Purwakarta pada 16 Mei 2025. Koperasi ini menjadi wadah resmi untuk melanjutkan kemitraan pengelolaan hutan secara legal dan berkelanjutan.

Struktur kelembagaan pun semakin berkembang. Jika sebelumnya hanya terdapat dua Kelompok Tani Hutan, KTH Giri Mulya dan KTH Tani Mulya kini bertambah menjadi lima dengan hadirnya KTH Wisata, KTH Pusaka Tani, dan KTH Selaawi. 

Mayoritas kelompok ini bergerak di sektor budidaya kopi, terutama kopi Arabika, disusul Robusta dan sedikit Liberika. KTH Giri Mulya sendiri menjadi salah satu motor utama pengembangan kopi rakyat di kawasan Hutan Pangkuan Desa (HPD) Pusakamulya, wilayah kerja Perhutani KPH Bandung Utara.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir jajaran pengurus Koperasi Jasa Giri Pusaka Purwakarta, di antaranya Dede Warsid selaku ketua dan Enjang Sugianto sebagai sekretaris. Kehadiran mereka menegaskan bahwa KTH bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem besar pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Sosok Abdul Rohman sendiri dikenal sebagai Banser (Barisan Ansor Serbaguna), organisasi yang identik dengan kerja sosial, kedisiplinan, dan pengabdian. 

Lahir di Purwakarta pada 21 Maret 1977, ia tumbuh dan besar di tengah masyarakat desa, memahami betul denyut kehidupan petani. 

Bagi banyak warga, kepemimpinannya diharapkan mampu membawa KTH Giri Mulya lebih adaptif, mandiri, dan berdaya saing.

Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar seremonial, melainkan penanda bahwa regenerasi di tingkat akar rumput benar-benar berjalan. 

Di tangan generasi yang lebih muda, namun berpengalaman, KTH Giri Mulya diharapkan mampu menjadi contoh bagaimana kelompok tani bisa tumbuh profesional, menjaga kelestarian hutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

Bagi masyarakat Desa Pusakamulya, momen ini adalah harapan baru. Bahwa hutan bukan hanya warisan, tetapi juga masa depan yang harus dijaga bersama dengan kerja, kebersamaan, dan kepemimpinan yang amanah.***