Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Jenderal Soedirman Panglima Besar TNI yang pertama


PurwakartaOnline.com - Tanggal 12 Nopember 1945, Jenderal Soedirman, terpilih menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atau saat ini berubah nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jenderal Soedirman mengakhiri masa jabatan seiring tanggal wafatnya, yaitu 29 Januari 1950 (wikipedia). Terpilih sebagai panglima melalui sebuah konferensi, mendapatkan 23 suara, unggul tipis 1 satu suara dari Jenderal Oerip. Konon saat itu, TKR (TNI) terbagi dua kubu. Tentara eks-KNIL, didikan Belanda dan tentara PETA didikan Jepang.

Dari segi jumlah, perwira jebolan PETA lebih banyak dari mantan tentara KNIL. Namun para petinggi TKR didominasi jebolan KNIL, karena taraf pendidikan mayoritas lebih unggul. Panglima Besar TNI, Jenderal Soedirman. Wafat di Magelang, dalam usia muda, 34 tahun. Pejuang di masa pertempuran Revolusi Nasional Indonesia ini dihargai sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
 

Perang dalam keadaan sakit dan tanpa logistik


Belanda mengkhianati perjanjian Renville dengan serangan mendadak ke Yogyakarta, 19 Desember 2019. TNI yang tidak dalam keadaan siap terpaksa mundur dan berperang gerilya. Perang gerilya dipimpin langsung oleh Panglima Jenderal Besar Soedirman. Pimpinan militer yang kharismatik, dan sangat dicintai oleh pasukannya.

Bagaimana tidak, saat itu, sang Jenderal Besar dalam keadaan sakit parah. Beberapa hari sebelumnya, ia baru menjalani operasi paru-paru dan selama berhari-hari hanya terbaring lunglai di tempat tidurnya. Tetapi, tanggung jawabnya kepada negara begitu besar. Ia mengsesampingkan fisiknya yang lemah. Didorong semangat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya meski harus ditandu.

Jangan membayangkan perang gerilya semacam kegiatan survival. Pasukan kecil pengawal Jenderal Soedirman, bahkan tak berbekal logistik makanan. Meski didampingi oleh dokter pribadi, sang dokter tak memiliki obat. Itu makanya, perang gerilya akan menjadi risalah abadi bagaimana para pejuang mempertahankan kemerdakaan bangsa ini, termasuk pada HUT TNI. Ini adalah perang gerilya terberat dan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Alkisah, Jenderal Soedirman dan pasukan menyusur jalur pantai selatan. Dari selatan Yogyakarta, mereka menuju Jawa Timur. Pada satu waktu, Jenderal Soedirman dan pasukannya selama berhari-hari mereka menyusuri pegunungan kapur. Siang, luar biasa panas. Sebaliknya, malam hari, dingin menyelusup sum-sum tulang. (sol)
 
Sumber: Wikipedia / Liputan 6