Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Guru Gembul Megurai Permasalahan di BUMN dan Garuda Indonesia: Sejarah Kerugian, Korupsi, dan Masa Depan Maskapai Nasional

guru-gembul-korupsi-bumn-garuda-indonesia
Guru Gembul uraikan masalah BUMN dan Garuda
MANGENJANG.COM - Sebagai negara berdaulat, Indonesia bergantung pada BUMN (Badan Usaha Milik Negara) untuk mendukung pembangunan dan kesejahteraan rakyatnya. Namun, tidak semua BUMN mampu memberikan kontribusi positif. Salah satu contoh yang patut diperhatikan adalah Garuda Indonesia, maskapai nasional yang selalu terjerat dalam masalah keuangan dan korupsi. Dalam unggahan video di YouTube Episode 657 dengan judul "MENGAPA PT GARUDA INDONESIA RUGI TERUS? : PENYAKIT BUMN" pada 17 Oktober 2023, Guru Gembul membahas permasalahan BUMN, terutama Garuda Indonesia, yang patut dicermati lebih dalam.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu alat pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dana pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Di Indonesia, terdapat banyak BUMN dengan total aset sekitar Rp10.000 triliun, baik dalam bentuk Persero maupun Perum. Namun, ironisnya, meskipun memiliki aset besar, banyak BUMN yang mengalami kerugian atau terjebak dalam kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Salah satu BUMN yang selalu merugi dan bermasalah adalah PT Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia: Sejarah yang Rumit

Sejarah PT Garuda Indonesia dimulai sebagai perusahaan Belanda di era Hindia Belanda dan kemudian dinasionalisasi pada tahun 1947. Pada tahun 1949, namanya diganti menjadi Indonesia Airlines, lalu menjadi Garuda Indonesia Airlines beberapa bulan kemudian. Namun, masa awal dinasionalisasi ditandai dengan kesulitan operasional karena situasi revolusi yang tidak stabil.

Baru pada tahun 1968 hingga 1984, PT Garuda Indonesia mengalami perubahan signifikan. Di bawah kepemimpinan Pak Wiweko Supomo, perusahaan ini berhasil memperbaiki manajemen, merombak personel terlibat dalam praktik KKN, membuka rute-rute perjalanan baru, dan berhasil dalam pembelian pesawat. Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai terbaik di dunia dengan armada sekitar 79 pesawat, menjadi maskapai terbesar kedua di Asia setelah Japan Airways.

Tetapi, masa kejayaan tersebut berakhir pada tahun 1984 ketika kepemimpinan berganti. Garuda Indonesia tidak mampu mempertahankan performa dan mulai menghadapi berbagai masalah, termasuk penurunan kualitas pelayanan, seringnya keterlambatan penerbangan, penyelewengan dalam perekrutan karyawan, dan campur tangan pemerintah Orde Baru dalam pengambilan keputusan.

Penyakit-penyakit yang Mendera Garuda Indonesia

Pada tahun 1999, Garuda Indonesia menjalani audit yang mengungkapkan bahwa perusahaan ini memiliki hutang mencapai 22 triliun dan kerugian mencapai 161 triliun. Sejumlah faktor menyebabkan kondisi ini. Pertama, pesawat Garuda memperlihatkan penurunan kualitas dan tertinggal dari perkembangan teknologi penerbangan. Kedua, kebijakan rute-rute penerbangan yang tidak menguntungkan seringkali diambil. Ketiga, pelayanan buruk dan seringnya keterlambatan penerbangan menjadi masalah utama. Keempat, jumlah pegawai yang berlebihan dan tidak kompeten turut membebani perusahaan. Terakhir, peraturan dan kuota yang ambigu dan kepentingan politik dalam pengambilan keputusan merupakan faktor penyebab utama.

Namun, permasalahan sebenarnya terbongkar ketika dilakukan penyelidikan lebih mendalam oleh Pak Robi Johan, yang menyimpulkan ada delapan masalah utama di dalam Garuda Indonesia. Tiga masalah utama adalah korupsi dalam jual-beli pesawat, manajemen yang kurang kompeten, dan pengaruh pemerintah yang ikut campur dalam kebijakan perusahaan. Masalah-masalah lainnya adalah pesawat yang tidak dirawat dengan baik, rute-rute yang kurang efisien, pelayanan buruk, dan pegawai titipan yang tidak berkualifikasi.

Perbaikan dan Kemunduran

Setelah penyelidikan tersebut, perusahaan berusaha memperbaiki diri. Banyak pegawai yang dipecat, manajemen diperbaiki, dan rute-rute yang merugikan dihentikan. Namun, permasalahan yang lebih mendalam adalah penyakit yang sama terus muncul di berbagai BUMN. Terdapat campur tangan politik dalam pengambilan kebijakan yang tidak selalu menguntungkan perusahaan.

Di tahun 2009, PT Garuda Indonesia berharap perubahan signifikan ketika dipimpin oleh Pak Emir Syah. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan mencatat keuntungan selama lima tahun berturut-turut, dan mendapatkan reputasi baik di tingkat internasional. Namun, keuntungan tersebut tiba-tiba berubah menjadi kerugian yang signifikan di Kuartal kedua 2014, yang diikuti oleh pengunduran diri Pak Emir Syah. Awalnya, alasan yang diberikan adalah memberikan kesempatan kepada generasi muda, tetapi kemudian terungkap bahwa alasan sesungguhnya adalah untuk menghindari penyelidikan atas korupsi besar-besaran yang terjadi.

Kesimpulan

Garuda Indonesia adalah contoh nyata masalah yang sering mendera BUMN di Indonesia, seperti korupsi, manajemen yang buruk, dan campur tangan politik yang merugikan. Meskipun sudah ada upaya perbaikan, penyakit yang mendera perusahaan ini tampak sulit dihilangkan sepenuhnya. Dalam konteks ini, pertanyaan muncul tentang apakah menjual aset negara adalah solusi yang benar. Meskipun pertanyaan ini sulit dijawab, yang jelas, masalah utama yang harus diatasi adalah manajemen yang buruk dan upaya korupsi yang merajalela. BUMN harus dikelola dengan transparan, kompeten, dan bebas dari campur tangan politik untuk mencapai tujuan yang seharusnya, yaitu memberikan kontribusi positif kepada pembangunan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.***